Thursday, December 6, 2007

Metallica


Di tengah iklim konservatif era Reagan, aksi akhir 70an seperti Aerosmith, KISS mulai terasa tua, loyo dan kurang greget. Diluar masih berkibarnya Van Halen, radio Amerika saat itu dipenuhi dengan band ‘tersangar' mereka seperti Journey, Styx, dan REO Speedwagon. Amerika, bahkan mungkin dunia butuh sebuah band dengan sesuatu yang baru dan segar. Sesuatu yang lebih cepat dan lebih brutal. Sesuatu bernama speed metal, dunia butuh Metallica.

Tatkala tahun 1981, dan menggilai New Wave of British Heavy Metal (NWOBHM) adalah titik pertama sejarah band ini. Sedemikian besar pengaruh musik metal Inggris, terlebih setelah berulang kali dimainkan oleh Ron Quintana dan Ian Kellen, dua orang penyiar radio yang membawakan acara Rampage Radio, sebuah radio show di KUSF, University of San Fransisco. Kirk Hammet, calon gitaris Metallica saat itu masih demikian muda dan mulai bermain di sebuah band metal asal bay area San Fransisco bernama Exodus. "Rampage Radio memainkan aksi Inggris seperti Venom. Ketika mendengarkan lagu "Live Like an Angel, Die Like a Devil" dari Venom, saya berpikir. What the hell is this? Bunyinya seperti seorang menggeret sekop besi di aspal. Tapi saya suka ini."

Kegemaran Kirk Hammet ini ternyata paralel dengan seorang Lars Ulrich. Remaja mantan calon pemain tenis profesional yang baru saja pindah dari Denmark ke Los Angeles. Brian Slagel, sang empunya Metal Blade records, salah satu label rekaman speed metal awal di amerika mengaku di majalah Revolver, "Saya bertemu Lars Ulrich di konser Michael Schenker di sebuah Country Club di Reseda, kami berkenalan karena Lars mengenakan T-shirt Saxon. Saat itu dia adalah seorang kolektor piringan hitam NWOBHM. Saya sering main ke rumahnya dan menemukan sebuah drum set teronggok di pojok ruangan. "Saya akan membuat sebuah band," kata Lars. Saya hanya menjawab, "Yeah right Lars!"Untuk tidak terjadi pertaruhan, karena tak ada siapapun yang menyangka bahwa 20 tahun kemudian, band yang dibentuk Lars Ulrich ini menjadi salah satu legenda musik dan berhasil menjual album sebanyak 100 juta keping.
Read More..

Saturday, December 1, 2007

Burgerkill


DUNIA MUSIK Indonesia berduka. Burgerkill, band hardrcok asal Ujung Berung sedang mengibarkan bendera kuning. Vokalis sekaligus frontmant-nya, Ivan [28 tahun], meninggal dunia lantaran sakit yang dideritanya di Bandung.

MENDENGAR nama BURGERKILL, buat kamu yang biasa berkiprah di scene underground tentu bukan nama baru lagi. Maklumlah, band yang mengusung hardcore ini termasuk ’bangkotan’ di kancah musik yang kerap dituding "menonjolkan kegelapan" itu.

Lahir secara "iseng -iseng" (begitu kata Ebenk, gitaris) tahun 1995 di daerah Ujung Berung (daerah ini sering disebut Bandung Coret, karena berada di pinggiran -red), BK mengambil nama plesetan dari sebuah restoran di sekitar markas mereka.

Mungkin awalnya hanya sebagai side project dari Ebenk yang sebelumnya sudah "terjun" di scene underground di Jakarta, sebelum meneruskan sekolah di Bandung. Cita-cita mereka berubah lebih serius ketika single mereka masuk di CD Kompilasi band-band Bandung garapan Richard Mutter (dramer PAS Band -red) bertajuk masaindahbangetsekalipisan tahun 1997.

Ketika mereka masuk ke SONY MUSIC dan merilis album baru BERKARAT, ada beberapa kalangan yang menuduh BK berkhianat.

Album BERKARAT mereka, meski masuk ke label major, tidak banyak berubah dari apa yang sudah mereka anut selama ini. Lagu-lagu di album ini lebih progresif. Hampir tidak ada nuansa Straight Forward dan mosh part yang sederhana lagi, seperti di awal-awal album mereka. Masuknya Agung, gitaris, ternyata membawa pengaruh yang cukup kuat. Suara Ivan yang kasar, makin kuat dengan gaya bengalnya.

Sebelum meninggal, Ivan sempat merampungkan album ke-2 bersama major label, yang sayangnya belum sempt dirilis. Kini band yang terakhir diawaki Ebenk (gitar), Agung (gitar), Andris (bas), dan Toto (dram), harus kehilangan seorang rekan yang mereka sayangi. Selamat jalan Ivan
Read More..

Gitaris Queen Diangkat Sebagai Rektor Universitas Inggris





London (ANTARA News) - Gitaris Queen, Brian May, telah diangkat sebagai Rektor Liverpool John Moores University di Inggris, universitas tersebut mengumumkan Senin.

May, yang lagu-lagu terkenal bandnya antara lain "Bohemian Rhapsody", akan mulai memangku jabatannya sebagai pimpinan kehormatan universitas itu pada Pebruari mendatang, saat ia mengambil alih tugas ini dari Cherie Blair, istri mantan Perdana Menteri Inggris Tony Blair.

"Tentu saja saya akan merayakannya nanti malam. Bagaimana caranya? Dengan daging panggang vegetarian dan segelas anggur pilihan!" kata May dalam pernyataannya yang dirilis universitas.

May mendapat gelar doktor dalam bidang astrofisika pada Agustus tahun ini. Ia memulai menyusun disertasi PhD-nya pada 1974, namun meninggalkan kegiatan itu ketika popularitas Queen kian melambung sebelum kembali ke bidang studinya pada tahun lalu.

Ia harus membersihkan onggokan catatan kuliahnya yang ditutupi debu karena terlalu lama ditinggalkan dan kemudian menyerahkan tesis doktornya yang bertajuk "Kecepatan Radial Dalam Awan Debu Zodiak" dan terdiri atas 48.000 kata kepada Kepala Departemen Astrofisika Imperial College, Profesor Paul Nandra.

Tugasnya sebagai rektor kehormatan akan meliputi memimpin upacara wisuda dan mewakili universitas pada berbagai kegiatan khusus.

"Brian May adalah pribadi yang sangat berbakat yang mencapai sukses global dengan Queen," kata kepala eksekutif dan wakil rektor universitas, Profesor Michael Brown, kepada AFP.

"Dalam masa budaya pesohor ini, jarang menemukan seorang yang dikarunia kemasyhuran, nasib baik dan pengakuan internasional, namun tetap mempertahankan nilai-nilai hakikinya, yakni belajar dan pencerahan.
Read More..

nirvana






Siapa yang gak kenal Nirvana, band yang mampu menyebarkan atmosfir grunge ke seluruh dunia. Band yang di pelopori sama Kurt Cobain ini mampu menyerap begitu banyak umat manusia dengan musik yag mereka bawakan, sayang banget kalo Kurt Cobain harus mati, padahal dia bisa memberikan suatu hal yang lebih lagi dari pada ini. Just keep Grunge in the world. Read More..

Tuesday, November 13, 2007

The Ataris

The AtarisAnderson, Indiana, adalah tempat dimana mereka bermula. Tahun 1995, Kristopher Roe dan Jasin Thomason memulai cikal bakal The Ataris dengan mencoba merekam beberapa materi di kamar Kris, dengan dibantu isian drum machine, karena memang mereka belum punya seorang drummer. Warren Fitzgerald adalah orang yang membawa mereka ke dalam industri musik dunia. Lewat tangan gitaris The Vandals ini-lah mereka berhasil menandatangani kontrak dengan Kungfu Record dan merilis album perdana mereka Anywhere but Here tahun 1997.Saat itulah Derrick Plourde (drum) dan Marko Desantis (bass) bergabung dengan The Ataris. Perjalanan mereka belum mulus rupanya. Jasin Thomason memutuskan hengkang dari band, jadilah sisa tour di kerjakan dengan tiga personel plus additional player. Setelah tour selama tahun 1997 The Ataris harus puas dengan hasil kehabisan uang hingga harus tidur di van dan masing-masing personel cabut entah kemana, sementara mereka masih berhutang beberapa jadwal tour.Akhirnya Kris bersikeras dengan keadaan seperti itu, mereka harus bisa tampil - mungkin untuk terakhir kalinya. Mike Davenport (bass),Marco Peña(gitar), Chris "Kid" Knapp (drum) direkrut untuk mengganti kekososngan personil lainnya. Berempat mereka melanjutkan tour yang tersisa, meski ditengah jalan Pena digantikan oleh Patrick Riley. Tapi dewi fortuna masih berpihak kepada mereka, dari tekad yang kuat itu mereka mulai menuai hasil.Mereka berhasil membentuk massa di kalangan scene undergorund saat itu. EP “Look Forward to Failure” dirilis ke pasaran. Hingga kemudian tahun 1999 mereka melepas album mereka yang kedua Blue Skies, Broken Hearts...Next 12 Exits.Tidak lama berselang, tepatnya tahun 2001 album ketiga mereka kelar. “End is Forever” menjadi album yang terdengar lebih personal ketimbang album yang lain. Banyak masalah antar personel yang tertuang menjadi lagu didalam album tersebut. Entah karena sang frontman punya idealisme tinggi sehingga tidak nyambung dengan personel lainnya, di tahun 2002 line up mereka mengalami perubahan kembali. Kali ini John Collura masuk untuk menggantikan Pena yang sempat kembali setelah album ketiga mereka rilis. Tanda tangan kontrak dengan Columbia Records berhasil membuka jalan mereka menembus jalur mainstream tentu dengan album mereka So Long, Astoria, yang dirilis 4 Maret 2003. Ditahun yang sama, line up mereka kembali mengalami perubahan. Davenport cabut untuk lebih konsen di bandnya yang baru, Versus the World. Sementara Knapp memutuskan untuk berhenti di jalur musik.Tahun 2005 saat mereka memulai merekam Welcome The Night, mereka sudah ketambahan "amunisi" dengan jumlah yang lebih banyak dari sebelumnya. Ada nama John Collura, guitar/Pianos , Paul Carabello, guitar/backing vocals/percussion , Angus Cooke, cello , Bob Hoag, piano/keys/Fender Rhodes/Mellotron/percussion , Sean Hansen, bass , Shane Chickeles, drums. Akhirnya dengan formasi yang "keroyokan" itu mereka merilis album paling anyar mereka Februari 2007 lalu dengan titel "Welcome The Night". Kini mereka hadir kembali untuk membuktikan bahwa mereka masih eksis dan terus melakukan terobosan baru dalam dunia musik, tentu saja dengan idealisme musik sang frontman, Kristopher Roe, satu-satunya personil asli yang masih tersisa dari The Ataris. Read More..

Sigur Rós

Sigur Rós Mungkin banyak yang belum mengenal band yang terbentuk pada tahun 1994 ini. Dengan empat orang personelnya, jón þor (jónsi) birgisson (vocals, guitars), kjartan (kjarri) sveinsson (keyboards), orri páll dýrason (drums) and georg (goggi) holm (bass) mereka mengibarkan bendera Sigur Rós, nama yang dipilih untuk band asal Reykjavík, Iceland (Eropa) itu.

Nama sigur rós diambil dari bahasa Iceland-Islandia yang berarti "victory rose" (mawar kemenangan). Nama itu digunakan bersamaan dengan lahirnya adik jónsi yang diberi nama Sigurrós (tanpa spasi) dan nama itu juga merupakan nama yang umum dimiliki oleh para wanita di sana.

Mereka mendunia lewat karya yang unik tapi mengejutkan. "von" 1997, dilanjutkan dengan "von brigai (recycle bin)" 1998 membuat nama mereka menjadi rock star baru di jajaran musik dunia. Kemudian diperkuat oleh dilepasnya album "agaetis byrjun" 1999, "( )" pada 2002 dan yang terakhir adalah "Takk (Thanks...)" pada tahun 2005. Sigur Rós juga mengerjakan banyak 'sountrack' film seperti "Vanila Sky" (Tom Cruise-2001) dan serial TV CSI : Crime Scene Investigation. Selain itu, mereka juga memiliki beberapa 'single', yang terbaru adalah Sæglópur (2006).
Musik mereka yang unik, mengalun perlahan dan menonjolkan sisi yang lebih gelap. Les Paul Gitar yang dipadukan dengan penggesek Cello oleh jónsi memang memberikan warna musik khas bagi sigur rós, terasa lebih gelap dan penuh dengan 'reverb', membawa siapapun yang mendengarnya ke dalam landscape unik Iceland, seperti yang menjadi misi dalam setiap lirik dan musik mereka. Musik memang menjadi andalan mereka dalam menyampaikan pesan, karena bahasa yang digunakan memang bukan bahasa lazim grup besar,bahasa inggris, namun mereka menggunakan bahasa Iceland, Icelandic dan hopelandic (Vonlenska, nama daerah di Iceland). Justru itulah yang membuat mereka menjadi unik.Tanpa menambah daftar keunikan karya-karya mereka, namun fakta bahwa sang frontman, jónsi, adalah seorang gay (homo seksual) dan mempunyai kebutaan pada salah satu matanya, tidak dapat dikatakan biasa. Fakta yang lain basis mereka pernah menggunakan stick drum untuk membuat suara "aneh" pada ornamen bassnya, metode itu mereka gunakan untuk penggarapan album "von".* Read More..

Yelowcard


Nama Yellowcard mulai mendapatkan perhatian saat album Ocean Avenue (2003) dirilis. Tenggang waktu yang cukup lama sejak mereka terbentuk di Jacksonville, Florida tahun 1997. Meski sebelumnya mereka sudah merilis sedikitnya 4 album (termasuk Ep-mini album). Mereka yang menggawangi Yellowcard adalah Ryan Key (vocals, guitar), Sean Mackin (violin, vocals) Peter Mosely (bass, vocals) ,Longineu W. Parsons III (drums) Ryan Mendez (guitar, vocals). Meskipun memilih untuk memainkan modern rock sebagai musik mereka, namun tetap saja keunikan terpancar dari warna violin yang dimasukkan ke dalamnya. Hasilnya? musik musik yang kaya dan lebih asyik untuk dinikmati.

Album perdana mereka, "Midget Tossing" (1997), nama Sean Mackin, seorang violinist muncul sebagai bintang tamu. Hingga album mereka yang kedua "Where We Stand" (1999) dan EP pertama mereka "Still Standing EP"(2000) mereka masih menjadi band rock biasa. Bahkan hingga menandatangani kontrak dengan Lobster Records dan menghasilkan "One for the Kids"(2001) pamor mereka tidak bergeser dari posisi semula. Cikal bakal mereka ditaksir banyak orang adalah setelah dilepasnya "The Underdog EP" (2002) dibawah bendera Ramen Records. Namun aksi mereka dikenal secara nasional maupun internasional adalah semenjak Ocean Avenue (2003) dirilis. Single pertama "Way Away" memasukkan mereka kejajaran band pengusung modern rock yang banyak dicari dan direquest lagunya. OceanAvenue" yang menjadi single berikutnya, berhasil memecah kebekuan dan penantian mereka selama ini. Dimulai dengan menembus chart MTV TRL pada posisi teratas kemudian dilanjutkan dengan menembus posisi 37 pada Billboard Hot 100. sejak saat itulah, Yellowcard mulai dilihat orang dan diundang untuk main di sejumlah panggung, salah satunya pada Warp Tour 2004, juga tampil di sejumlah setasiun televisi. Penjualan album pun membengkak hingga lewat angka 2 juta copy hanya di USA. Meskipun demikian, popularitas tidak membuat mereka terburu-buru untuk melepas album berikutnya. Sebaliknya, mereka justru memilih untuk ikut dalam proyek soundtrack beberapa buah film. "Gifts And Curses" mereka buat untuk mengisi soundtrack Spiderman-2, "Don't You Forget About Me" juga dimainkan untuk mengisi musik pada film The Breakfast Club. Belum lagi keterlibatan mereka dalam beberapa album kompilasi seperti Rock Against Bush Vol. 2, dan sebagainya. Album terakhir mereka yang bertitel "Light And Sounds" (2006) kembali membawa nama Yellowcard ke jajaran puncak band pengusung modern rock. Minggu pertama sejak rilis, album tersebut bahkan mampu menembus angka penjualan 90.000 copy. Kabarnya untuk tahun ini mereka sudah masuk studio untuk memulai proses rekaman album selanjutnya.* Read More..

Funeral For A Friend


Bagi mereka yang sedang tergila-gila dengan musik jenis post-hardcore atawa yang berbau emo, nama band asal Inggris (UK) yang satu ini, Funeral For A Friend-FFAF, jelas bukan nama yang baru.

Funeral For A Friend lahir di tahun 2001. Nama tersebut mulai digunakan saat mereka merilis EP pertamanya, Between Order & Model (2002), setelah sebelumnya sempat menggunakan January Thirst sebagai nama mereka. Nama FFAF sebenarnya diambil dari salah satu lagu milik sebuah band, Planes Mistaken for Stars. Namun kabarnya ada juga yang menyebutkan bahwa nama itu diambil dari bait kedua sebuah puisi karya Linda Ellis yang berjudul "The Dash".

Mereka terdiri dari Matt Davies-lead vocals dan gitar, Gareth Davies-bass dan vocals, Kris Coombs Roberts-gitar, Ryan Richards-drums-vocals, dan Darran Smith-gitar. Setelah resmi menggunakan nama Funeral For A Friend, mereka pun kembali merilis EP kedua mereka, Four Ways to Scream Your Name (2003) yang di produseri oleh Colin Richardson. EP kedua mereka itu berhasil mencuatkan nama mereka berlima. Pertengahan 2003 Kerrang!! Award mengganjar mereka dengan penghargaan "Best UK Newcomer" yang mampu mengalahkan dominasi The Darkness-band yang sedang naik daun saat itu. Masih di tahun yang sama, album perdana FFAF-pun dilepas ke pasaran. Bertitel "Casually Dressed & Deep in Conversation," album tersebut siap tanding pada 20 Oktober 2003. Dibawah arahan Colin Richardson, album itu berhasil mencuri perhatian dengan single hit yang berhasil naik keposisi 20 besar di beberapa chart seperti "Juneau" (#19), "She Drove Me to Daytime Television" (#20), "Escape Artists Never Die" (#19). Band yang pernah menjadi headline di the Reading and Leeds Festivals itu cukup lama disibukkan dengan tour dan promosi album perdana mereka sehingga album keduanya dirilis dengan jarak yang cukup lama yakni sekitar dua tahun. Baru pada 14 Juni 2005 mereka kembali hadir dengan album kedua, “Hours.” Untuk albumnya yang kedua ini mereka di produseri oleh Terry Date dan direkam di dua studio kepunyaan Pearl Jam. Dan kabarnya sang vokalis, Matt Davies merekam suaranya diatas mobil di sepanjang WA street.Lagi-lagi mereka berhasil membuat Kerrang!! mengganjar mereka dengan penghargaan "Best British Band" pada bulan Agustus. Tahun 2005 dan tahun 2006 sepertinya menjadi tahun dimana nama mereka melambung. Bersama Atreyu, Saosin, Hawthorne Heights, dan Thrice mereka menggebrak di Warp Tour (2005) yang dilanjutkan dengan Reading and Leeds Festivals di panggung utama. Mereka juga berhasil menjadi headline bersama dengan Killswitch engage, Story Of The Year dan The Used pada Taste of Chaos tour (2006). Di akhir 2006 mereka memutuskan untuk memfokuskan diri pada pengerjaan album mereka yang berikutnya, meski ada beberapa tour yang tetap dijalani. Tahun 2007 ini, rencananya mereka akan melepas album ke tiga, Tales Don't Tell Themselves, pada bulan Mei. Meski tanggalnya belum pasti, namun informasi lainnya tentang album dan tour-tour yang digelar bisa dicek bocorannya di Myspace mereka. Prediksinya, album tersebut akan dipadati oleh kualitas sound asli dari Funeral For A Friend seperti yang telah mereka lakukan di album mereka yang pertama.* Read More..

Killswitch Engage


Band yang satu ini tentunya tidak asing lagi buat mereka yang mengusung hardcore, metal ataupun musik-musik keras lainnya, karena memang band yang menamakan dirinya Killswicth Engage (KSE) itu banyak dijadikan inspirasi. Sampai hari ini mereka telah menghasilkan 4 buah album, terakhir dirilis beberapa waktu lalu dengan tajuk "As Daylight Dies."

Band yang bermarkas di Westfield, Massachusetts itu mulai bermusik dengan prinsip untuk menjadi berbeda dari yang sudah ada. "When we started this band, we just wanted to play cool riffs and scream and sing. We liked many different sounds so we tried to incorporate all these rock and pop styles while keeping a good, solid metal mentality," itu kata dari sang gitaris Adam Dutkiewicz. Awal kesuksesan mereka dimulai pada tahun 1998, saat itu formasi awal dari KSE adalah sang bassis Mike D Antonio , vokal Jesse Leach serta Joel Stroetzel sebagai gitaris dan Adam Dutkiewicz sendiri. Embrio awal ini menghasilkan sebuah album undeground (di Indonesia dikenal sebagai Indie) dibawah bendera Ferret Music. Kemudian mereka dilirik oleh Roadrunner Records dan akhirnya memutuskan untuk bergabung. Dibawah benderanya, mereka membuahkan sebuah full album yang mengantarkan pada sebuah kesuksesan besar. Alive or Just Breathing (2002) mampu menembus angka 37 pada Billboard's Heatseeker Chart dan memenangkan sebuah pernghargaan dari CMJ New Music Report and Alternative Press ( sebuah penghargaan pers terhadap insan musik ). Ditengah kesuksesan, Jesse Leach cabut yang kemudian digantikan oleh Howard Jones dan ditambah masuknya Justin Foley pada drum. Masuknya dua orang itu ternyata membawa dampak besar bagi perkembangan musik KSE yang kemudian melahirkan debut album mereka yang ketiga, The End Of Heartache (2004), yang lagi-lagi berhasil menembus angka 21 di chart yang sama. Di-album yang ketiga tersebut mereka meramu banyak hal, dari olah vokal yang matang hingga memasukkan unsur-unsur jazz pada isian gitar. Itu kembali membawa mereka masuk dalam ajang Grammy Award meski hanya sebagai nominator. " It's kind of like finally getting your diploma - or I guess in our case, almost getting your diploma." sahut Dutkiewicz. Tidak hanya sukses dengan album, perjalanan panggungnya juga semakin membuat mereka diperhatikan banyak pihak. Menjadi pembuka pada tour Slayer pada tahun 2004 mampu eletakkan mereka menjadi headline pada Ozzfest tahun berikutnya. Pada tahun yang sama, mereka didaulat untuk manggung bersama My Chemical Romance dan The Used pada Taste of Chaos Tour. Sementara Jimmy Kimmel Live and Last Call with Carson Daly adalah acara TV perdana dimana mereka tampil dan berhasil mencuatkan single "The End of Heartache" dan "Rose of Sharyn". Dengan banyaknya kesuksesan yang diraih mereka telah membuat banyak band terinspirasi bukan hanya dari segi musik tapi segala hal tentang KSE. Yang perlu diketahui juga selain mahir bermusik, beberapa personel mereka juga mempunyai pekerjaan sampingan yang juga berpengaruh dalam perkembangan musik mereka. Sang bassist D Antonio adalah seorang designer grafis yang turut membuat logo dari KSE dan juga band-band lain seperti All That Remains, Shadows Fall, Chimaira, Cannibal Corpse. Sang voklais Howard juga memproduseri beberapa band baru yang memainkan musik sejenis dengan mereka seperti 12 Tribes, Bury Your Dead dan August Burns Red. Dutkiewicz's juga memproduseri beberapa album dari band seperti Underoath dan Every Time I Die. Yang menarik menurut Dutkiewicz's dari semua hal itu adalah dia menadapatkan semua inspirasi musiknya dari menggarap album-album orang lain. "Personally, I get inspired by a lot of the bands I work with, and they get inspired by me barking orders at them." Dia juga menambahkan bahwa dia bisa terinfluence dari banyak hal bahkan bunyi mobil rusakpun bisa menginspirasi dia, asal dengan ryhtm yang benar-benar sakit. Album mereka yang terakhir As Daylight Die (2006) membuktikan kualitas musik mereka. 11 lagu yang di dalamnya adalah sebuah perpaduan dari idealisme, melody, rock serta metal yang membuahkan sebuah musik yang garang.* Read More..

deftones


Kalau kalian mengenal Deftones sebagai band yang garang mempermainkan setiap irisan gitarnya atau setiap ketukan drumnya yang selalu dipadu dengan unsur poop manis namun tetap terdengar cadas maka album ini mewakili apa yang kalian pikirkan.

“Saturday Night Wrist” merupakan album yang berbeda dari Adrenaline (1995) atau White Pony (2000), mungkin juga Self Titeld (2003). Yang kita bicarakan adalah Deftones yang mampu membuat setiap albumnya berbeda dan tidak bergantung.

Track pertama kalian akan disuguhi oleh "Hole In The Earth", tembang pembuka yang sangat radio friendly atau mungkin sangat nge-pop?? yang jelas mereka cara bernyanyi mengalun dengan sentuhan musik cadas yang membuat komposisi mereka masih terdengar garang.

Jangan salah menilai, karena "Rapture" akan mencuci telinga kita dengan gempuran aliran musik kencang tanpa jeda. Ini gempuran musik Deftones yang melaju tanpa berhenti. Di track ini kalian mengerti bagaimana berteriak yang bagus menurut Deftones ha ha,meski sedikit juga di isi oleh alunan vokalnya di beberapa bagian namun tetap saja ini track yang harus didengar saat kita berada di jalur balapan mobil.

Mulai dari sini merupakan track penghantar kalian untuk masuk ke jurang tanpa dasar alias inilah sederetan track dengan tingkat kegelapan dan kegelisahan tinggi khas Deftones. Anggaplah kalian sedang berjalan di tengah kesepian karena kalian sedang sedih dan tiba-tiba kalian dikejutkan oleh badai hati yang membuat semua ketenangan menjadi berantakan, itulah "Beware". "Cherry Waves" adalah kelanjutan badai dimana seolah diajak bersiap meloncat ke jurang itu.

Namun "Mein"akan membawa keraguan, karena musik yang melaju hingga membuat ingin berfikir ulang dan harus mengambil keputusan dengan cepat. "U,U,D,D,L,R,L,R,A,B,Select,Start" lagu dengan judul yang mirip sebuah cheat game, adalah track instrument yang kental dengan kegelapan dan kegelisahan. Nampaknya mereka ingin mengajak merenung lebih dalam. Di 4 track tersebut yang menonjol adalah isian bass Chi Cheng serta efek suara "gelap" hasil sentuhan DJ Frank Delgado itulah yang membuat kalian terdampar dalam kegelisahan.

Di track selanjutnya akan dihadapkan pada satu nomor yang masih bernuansa pop,lagi?? Jangan salah dulu ini pop Deftones bukan pop “Raja!” "Xerces" masih bermain diarea gelisah untuk album ini, Vokal Chino terasa sedih diawal lagu dan meninggi di tengah atau bagian reffnya. Sentuhan distorsi kasar gitar membuat lagu ini berkarakter kuat sebagai salah satu lagu dengan campuran manis dan kasar.

Strategi yang sama diberlakukan untuk track selanjutnya. Agar yang terlanjur tetidur menikmati "Xerces" maka "Rats!Rats!Rats!" dipilih untuk mengisi track selanjutnya. Hasilnya kalian akan dipaksa berhead banging kembali dengan mata sayu karena kantuk. "Pink Cellphone" mungkin track paling unik disini, DJ Frank yang bermain lebih disini, yang lain hanya menikmati karena track ini akan terdengar seperti lagu hip-hop tapi lagi-lagi ini Deftones!!*

Secara utuh album ini memang mempermainkan emosi kalian, karena banyak kejutan yang datang dari eksplorasi Deftones tentang kegelisahan dan kegelapan serta unsur-unsur musik yang lebih ter-eksplorasi disini. Begitu juga dengan "Combat" hingga "Riviere" yang menjadi track penutup. Kematangan sesuai umur atau sesuai dengan berat badan?? yang pasti mereka telah membuat setiap album mereka menjadi pilihan setiap orang.

Read More..